dia luka yang kukenal baik, yang sudah pernah menjadi biasa kunikmati hadirnya.
dia luka bukan yang terjadi saat ini, hari ini..
tapi aku menangisinya detik ini, karenamu yang berhasil menarikku kembali mengingat semuanya.
semua yang sedari dulu aku coba untuk lupakan.
dia luka karena mereka, pun karena aku sendiri.
dan kamu, dengan beraninya menjadi pengingat perih dan sakit hatiku dulu.
bahkan kau membuatnya semakin dalam.
katamu kamu sayang, hah.
jangan membuatku tertawa.
kalau benar tulus, mengapa mengais luka-hati lamaku?
malah kamu membuatnya semakin parah.
asal tau saja.
susah untukku mengerti jalan pikiranmu.
sulit hati dan logikaku menerima alasanmu.
mungkin pikirmu untuk memberi bahagia,
kamu harus membuat sedih harus teringat jelas lagi?
it hurts me. so much.
mungkin maksudmu membuat pedih itu menguak dulu baru menyembuhkannya?
iya?
justru itu membuat semua usaha pemulihanku terhadap diriku sendiri sebelum kamu ada menjadi sia-sia.
oiya kamu berhasil
menjadi pengais,
pengais lukaku yang ingin kukubur itu.
No comments:
Post a Comment